Cahaya di atas Cahaya (1)

0
44

Al-Qur’an adalah sebaik-baik Petunjuk

Ust. Dr. Muh. Mu`inudinillah, MA.

 

” sungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”QS Al-Isra’ ayat : 9.

            Ayat di atas merupakan statement tegas dari Allah bahwa Al-Qur’an adalah sebaik baik petunjuk. Dalam ayat tersebut tidak menjelaskan obyek petunjuk. Menurut kaidah Tafsir Al-Qur’an hal ini menunjukkan keumuman petunjuk yang dapat masuk di dalamnya, masuk dalam keumuman  petunjuk individu maupun jamaah, petunjuk dalam kehidupan keluarga, masyarakat, ekonomi, politik, sosial, budaya, petunjuk yang paling mudah, sederhana menuju kesuksesan dunia dan akherat.

Kenapa Al-Qur’an sebagai petunjuk terbaik, karena  ia datang dari Allah yang menciptakan manusia, maka ia yang paling tahu apa yang bermanfaat bagi ciptaanNya, Allah berkata : ketahuilah Dia lebih mengetahui apa yang Dia ciptakan dan Dia Maha lembut dan Maha mengetahui.QS Al-Mulk ayat :14.

Al-Qur’an memberikan petunjuk yang terbaik dalam mengelola dunia, terbaik dalam memberikan solusi segala problematika yang dihadapi manusia.. keyakinan ini merupakan prinsip kehidupan muslim, adapun pembuktiannya dapat diketahui melalui ijtihad induktif diduktif apa yang Allah tebarkan dalam ayat ayat-Nya.

Diantara petunjuk Allah yang terbaik adalah masalah tolok ukur kemuliaan manusia, kalau dalam filsafat manusia, penentu kemuliaan adalah materi, kekayaan, jabatan, kecantikan fisik, maupun ilmu murni, sehingga dari ukuran ini kemuliaan bukan merupakan medan terbuka bagi semua manusia,  kemuliaan menjadi sarana merendahkan orang yang tidak masuk kriteria tadi, maka Islam memberikan konsep kemuliaan yang terbaik yakni taqwa refleksinya sejauh mana orang mampu menjaga dirinya dari kemurkaan Allah, dengan menggunakan semua apa yang dikaruniakan oleh Allah untuk kebaikan manusia, sehingga orang yang paling mulia adalah orang yang paling  bermanfaat bagi manusia,  paling mampu menggunakan potensinya untuk kebaikan manusia. Sehingga kekayaan, jabatan, dan apa saja yang dimiliki, kalau bukan untuk kebaikan, bukan sebuah kemuliaan, melainkan sebuah istidraj yang mengantarkan kepada kehinaan.

 

 

Dalam masalah ilmu, manusia membaginya menjadi ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu umum dan ilmu syari’ah, ada yang memandang ilmu syar’i hanya ilmu yang berkaitan dengan ibadah murni atau syari’ah, mengharamkan atau meremehkan tehnologi. Sebagian lainnya ada yang memandang bahwa yang dikatakan ilmu hanya yang bersifat empirik, sedang Al-Qur’an memberikan petunjuk terbaik integrasi ilmu, bahwa ilmu yang bermanfaat dipandang sebagai ilmu Allah, dan ilmu addin yang harus dipelajari, yang mencakup ilmu wasaail ilmu sarana hidup, saint tehnologi.dan ilmu tujuan hidup yang isi dan metodeloginya diberikan secara utuh oleh Allah swt, kedua ilmu terpadu menjadi satu dalm Al-Qur’an. Hanya menjadikan ilmu sarana merupakan opsi yang luas karena tidak mungkin sesorang menguasai semuanya, cukup menguasai sebagian sebagai sarana memenuhi fardhu kifayah dan menjadi sarana kehidupannya, sedang ilmu tujuan harus dikuasai oleh setiap manuisia.

Kalau dalam falsafat yang dikatakan ilmu hanya yang empiric, dan sarana ilmu hanya akal dan panca indra melaui observasi dan experiment, sehingga menafikan khabar shadiq (sumber berita yang kredibel dan akurat) Islam memadukan sumber ilmu empiric dengan ilmu yang hanya diperoleh melalui berita yang benar yang disampaikan oleh orang yang terbukti kejujurannya, integritas dirinya, dan hafalannya. Sehingga wahyu kalau menurut filsafat bukan ilmu, karena tidak bisa dicoba, sedang menurut Al-Qur’an ia ilmu karena disampaikan oleh orang yang tidak pernah dusta sebagaimana Allah tegaskan, Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya Aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?

Ayat ini memberikan pembuktian kebenaran Rasulullah dan wahyu yang dibawanya, dengan menegaskan bahwa Rasul tinggal bersama mereka sejak kecil, tidak dikenal pernah dusta, tidak pernah belajar dari orang yahudi dan Nashoro, tidak menklaim bahwa wahyu itu dari dirinya, maka tidak ada jalan lain kecuali menerima bahwa Al-qur’an adalah dari Allah swt..

Dalam masalah pernikahan dan hak suami Istri, kalau diluar Islam ada yang melihat bahwa istri  adalah dimiliki suami, dan sebagian ada yang menolak kepemimpinan suami, bahkan ada yang  menolak lembaga keluarga yang dibangun atas pernikahan, Islam memberikan petunjuk yang terbaik bahwa ikatan pernikahan adalah ikatan yang sangat suci yang dibangun atas timbal balik hak dan kewajiban, kepemimpinan suami, bukan kepemimpinan kekuasaan tapi kepemimpinan qawamah, pengayoman dan perlindungan, sehingga sudah wajar, suami harus punya kelebihan atas istri untuk dapat memberikan bimbingan dan pengayoman bukan ekploitasi. Ikatan pernikahan bukan hanya ikatan biologis, walaupun tidak dilarang, tapi ikatan ta’awun atas kebajikan dan taqwa yang dibangun atas cinta, kemesraan, dan kestiaan untuk bersama sama menuju kehidupan dunia yang bahagia dan dilanjutkan kebahagiaan yang abadi di akherat sebagaimana Allah katakan: (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.

Islam memberikan putunjuk yang paling baik dalam masalah dunia atau harta, sebagian manusia memandang harta sebagai hal yang utama dan simbul kemuliaan, sebagian melihatnya sebagai suatu yang hina dan laknat, Islam memberikan petunjuk bahwa harta adalah sebagai satu tonggak kehidupan yang perlu dijaga, sebagai hiasan kehidupan, sesuatu yang baik, tetapi sebagai ujian apakah dijadikan sarana ibadah dan berbuat baik, atau menjadi sarana berbuat buruk dan melupakan Allah maka disitulah dunia dan harta dilaknat.

Dalam masalah kekuasaan sebagian manusia memandang bahwa penguasa adalah wakil tuhan, apa yang dikatakan penguasa pasti benar, harus ditaati bahkan meyakini bahwa darah ketuhanan mengalir di jiwa para raja, sementara yang lainnya memandang bahwa kekuasaan, dan kedaulatan di tangan  rakyat, maka apa yang diinginkan mayoritas rakyat itu yang benar, Islam memberikan petunjuk yang terbaik bahwa kekuasaan dan hukum di tangan Allah, maka penguasa harus menjalankan apa yang digariskan Allah, tanpa mengikuti perintah dan petunjuk Allah, kekuasaan raja tidak sah dan perintah serta ataurannya tidak boleh diikuti, rakyat berhak menentukan siapa pemimpinnya sesuai dengan kriteria pemimpin yang ditetapkan oleh Allah, yaitu kuat dan amanah dalam menjalankan syari’at Allah swt.

Dalam masalah perceraian sebagian manusia memandang bahwa perceraian apapun alasannya haram dan kotor, maka tidak boleh, akibatnya kehidupan rumah tangga menjadi jahannam yang tak tertahankan, seabagian ada yang memudahkan masalah cerai, sehingga melakukan perceraian tanpa aturan yang jelas, sedang Islam memberikan bimbingan yang paling baik, perceraian adalah solusi akhir ketika suami istri tidak bisa disatukan lagi, keharmonisan tidak bisa diperbaiki, dan telah dilakukan berbagai langkah perbaikan, nasehat yang lembut, pisah ranjang, diutusnya dua hakim dari dua keluarga suami istri, ketika tidak berhasil, baru dilakukan cerai dalam kondisi suci dan belum dikumpuli, agar benar benar cerai dilakukan karena suami istri tidak saling membutuhkan lagi, perceraian dilakukan dua kali yang boleh rujuk, dan selama masa iddah suami Istri tetap dalam rumah yang mereka tempati, melakukan kewajibannya selain hubungan seksual, dalam rangka memberikan kesempatan untuk berfikir ruju’. dan kalau memang sudah tidak mungkin ruju’ lagi, maka setelah habis masa iddah suami istri diperintahkan pisah secara baik, dan tetap mengingat kebaikan masing masing tanpa dendam.

Dalam masalah poligami, sebagian manusia melihatnya sebagai sesuatu yang hina tercela, merupakan kedhaliman terhadap wanita, sebagian lainnya melihatnya sebagai sesuatu yang sunnah dan yang tidak melakukan berarti tidak melakukan sunnah, dan sebagaian lainnya memandangngnya sebagai kebanggaan, dan dibolehkan tanpa batas, sedang Qur’an memberikan petunjuk yang terbaik, yaitu poligami dipandang sebagai kebutuhan dan solusi dengan syarat syarat yang menjamin tidak adanya kedhaliman, maka yang membutuhkannya sebagai solusi dan melakukan dengan adab adabnya tanpa kedhaliman, tidak ada jalan untuk dicela, sedang orang yang tidak membutuhkan maka tidak dipandang melanggar sunnah sebab sunanh bukan poligaminya melainkan bagaimana berpoligami, dan yang tidak membutuhkan tidak perlu diprovokasi sehingga tidak ikut latah melakukan, dengan demikianm hak dan kehormatan wanita tetap terjaga, dan kerusakan moral dapat ditekan dengan baik.

Dalam masalah bisnis, Islam memberikan petunjuk yang paling baik hendaklah hubungan antara sipenjual dan pembeli, antara pekerja dan yang mengordernya, antara penyewa dan yang punya barang memiliki spirit saling memberikan manfaat kepada saudaranya, saling menolong agar saudaranya mendapat kebutuhannya dengan mudah dan baik, kemudian hati dan pikirannya longgar dan dapat beribadah kepada Allah swt. Maka Rasulullah bersabda : semoga Allah merahmati orang yang toleran dalam menjual, membeli, membayar utang dan menagih utang.

Dalam interaksi dengan semua manusia, Islam memberikan kaidah ” ta’awun atas kebajikan dan ketakwaan serta menghilangkan semua bentuk kedhaliman, hal merusak dan mengganggu jalannya da’wah, maka pada prinsipnya, Islam menganjurkan berbuat baik kepada seluruh manusia, baik muslim maupun orang kafir, sesama muslim sebagai hak ukhuwah persaudaraan, dengan orang kafir sebagai haknya sebagai manusia dan sarana menda’wainya kepada Islam, adapun jihad dan perang ditujukan kepada orang yang dhalim dan penghalang jalannya da’wah, jika tidak mendhalimi, dan menghalangi jalannya da’wah maka tidak ada paksaan dalam aqidah sebab aqidah tidak mungkin dipaksakan.

Dalam masalah hak penguasa terhadap harta publik Qur’an memberikan bimbingan yang paling mulia sebagaimana diungkapkan oleh Umar bin Khathab ” aku menempatkan diriku pada harta publik seperti posisi pemelihara harta anak yatim, jika aku kaya, aku menjaga diri untuk tidak memakannya, dan jika aku fakir maka aku makan dengan wajar. Dan jika akau berkecukupan setelah itu aku kembalikan yang aku makan. Jadi dengan kaidah ini seorang pejabat tidak boleh sewenang wenang menentukan gaji dan fasilitas diluar kewajaran dan di atas rata rata yang dinikmati  oleh rakyat, dan jabatan dipandang sebagai amanah yang ditunaikan, bukan sebagai peluang untuk mengeruk dan menumpuk kekayaan. Wallah a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here