Latar Belakang Ma’had ‘Aly

Realita membuktikan ketika Al-Islam dijadikan landasan kehidupan secara konsisten dan utuh, mampu mencetak pribadi-pribadi yang tangguh, komunitas Islam yang solid, dan membangun peradaban robbani yang dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan mereka seperti yang terjadi pada abad pertama, kedua, sampai ketiga hijriyah. Setiap kaum muslimin mengaami keterpurukan, kemudian muncul para mujadiddin yang mengembalikan kaum muslimin kepada keaslian Islam dan keutuhannya, merefleksikan dalam kehidupan umat Islam, mampu meraih kembali kejayaannya, seperti yang telah ditampilkan Umar bin Abdul Azis dalam mengembalikan umat kepada jihad hingga berhasil mengusir Tartar, serta keberhasilan Al-Ghazali dan Abdul Qadir Jaelani dalam mencetak ulama dan santri yang menjadi tulang punggung tentara Shalahuddin Al-Ayyubi.                                       .

Lemahnya intelektual muslim dan kemampuan ulama dalam mengarahkan kehidupan dan mendesain peradaban Islam, telah mengakibatkan umat tidak tahu arah. Akibatnya, muncul fenomena adanya orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai pemikir dan ulama Islam, padahal mereka tidak memiliki kemampuan ‘ulumuddin yang memadai. Pada akhirnya, umat berada dalam kerancuan pemahaman, merebaknya syubhat-syubhat, SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme), dan bid’ah-bid’ah di masyarakat.

Berangkat dari fenomena di atas, maka Yayasan Ibnu Abbas mendirikan Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam yang bertujuan memberikan pendidikan Islam secara komprehensif dan terintegrasi untuk melahirkan lulusan yang mampu mengkonsep dan mengimplementasikan, serta merekayasa sosial dakwah dengan berbekal ‘ulumuddin dan mampu menyelesaikan problematika sosial sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan oleh umat .